Kesalahan yang Terjadi Saat Bisnis Franchise, Jangan Sampai Dilakukan

Ingin memulai bisnis tetapi tidak ingin repot dengan pemasaran? Atau mungkin Anda ingin menjalankan bisnis yang sudah memiliki branding yang cukup kuat di masyarakat? Maka solusinya tinggal memilih bisnis franchise alias waralaba. Ya, jika Anda seorang pemula yang ingin memulai bisnis, waralaba adalah pilihan terbaik karena risiko kerugiannya tidak terlalu tinggi.

Baca ulasan menarik lainnya di Media Jakarta, silahkan bisa klik tautan tersebut.

Tidak seperti memulai bisnis dari ide Anda sendiri, bisnis waralaba tidak harus sulit. Anda tinggal memilih franchise yang Anda minati, mengeluarkan uang untuk berinvestasi dan kemudian mendapatkan omset dan keuntungan. Tidak perlu repot dengan bahan baku atau pemasaran, karena pengelola waralaba akan menangani Anda.

Tidak hanya menguntungkan investor, bisnis waralaba juga menguntungkan pemilik. Karena Anda berpeluang untuk memperluas pangsa pasar dari dana pihak lain. Bahkan dalam waktu yang relatif singkat, bisnis dengan konsep franchise memiliki peluang lebih cepat untuk berkembang dan mendapatkan cakupan yang lebih luas. Namun ternyata masih ada beberapa kesalahan yang tidak disadari oleh pemilik bisnis franchise dan investor.

8 Kesalahan yang Kerap Dilakukan Pemula Saat Bisnis Franchise

1. Cari Modal dari Hutang

Yang namanya bisnis franchise tentu membutuhkan modal yang cukup besar terutama untuk operasionalnya. Meski sudah mendapatkan bahan baku dari pemilik usaha, Anda tetap perlu mempertimbangkan soal menyewa lokasi untuk menggaji calon karyawan. Namun yang terpenting adalah menyiapkan modal untuk membeli paket yang ditawarkan oleh franchisor.

Karena jumlahnya yang cukup besar, beberapa calon investor nekat mengajukan pinjaman ke bank. Apakah ini salah? Tidak, hanya tidak bijaksana. Ingatlah bahwa mengajukan pinjaman dari pihak lain membuat tagihan memberatkan.

Tentu akan menjadi masalah jika ternyata franchise yang Anda jalankan di lokasi tertentu tidak mendapatkan omzet seperti yang diperkirakan. Meskipun Anda harus tetap membayar tagihan Anda, yang terjadi adalah keuangan Anda bisa berantakan dan Anda kehilangan uang.

2. Sembrono Pilih Partner

Hal ini tidak hanya berlaku bagi calon investor, pemilik waralaba juga akan salah dalam memilih mitra bisnis. Sebagai calon investor, yang terbaik adalah mempelajari waralaba sebelum memilih. Begitu pula dengan franchisee, jangan langsung menggelapkan jika ada calon pembeli yang bersedia memilih paket franchise tertentu.

Lakukan pendekatan personal dan profesional agar pemilik dan franchisee dapat menjalin hubungan yang baik. Bahkan jika perlu, sewalah konsultan hukum atau pengacara untuk mendapatkan nasihat ahli lainnya sebelum memilih calon mitra. Dengan konsultan hukum, Anda tidak perlu khawatir jika Anda memiliki kontrak bisnis sehingga waralaba dapat berjalan secara bertanggung jawab.

3. Terburu-Buru Buka Cabang

Ini adalah kesalahan yang dilakukan oleh pemilik waralaba, yang tergoda untuk membuka cabang. Apalagi jika banyak calon investor yang tertarik dengan paket franchise. tentu tidak sabar. Keadaan tersebut tidak terlepas dari anggapan bahwa tolok ukur kesuksesan bisnis adalah memiliki cabang dimana-mana.

Padahal, jika Anda sebagai manajer dan calon investor belum siap, cabang yang baru dibuka bisa semrawut dan akhirnya mengganggu operasional bisnis Anda secara keseluruhan.

4. Tak Berpengalaman

Meski bisnis waralaba tidak rumit, Anda tidak bisa meremehkannya. Meskipun banyak pendapat yang mengatakan bahwa waralaba adalah pilihan bisnis terbaik untuk pemula, Anda tetap perlu waspada. Pengalaman adalah kunci utama sebuah franchise bisa sukses atau tidak.

Baik itu pemilik atau pembeli, lebih baik berkonsultasi dengan seseorang yang memiliki pengalaman. Tanyakan banyak hal mulai dari bagaimana mengembangkan bisnis agar stabil sebelum cepat mengembangkan pangsa pasar.

5. Manajemen Bisnis Berantakan

Jika Anda memiliki bisnis waralaba, jangan berani menawarkan paket waralaba sebelum menyempurnakan manajemen bisnis Anda. Mengapa demikian? Karena jika hati-hati ingin membuka cabang dan hanya tergiur dengan modal yang masuk tapi tidak membenahi manajemen operasional, bisnis franchise bisa bangkrut dan merugi besar.

Sebaiknya Anda secara rutin melakukan pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Standar Operasional Prosedur (SOP) bagi seluruh karyawan. Dengan demikian, karyawan Anda akan lebih berkualitas sehingga jika ditempatkan di cabang franchise akan terlihat profesional. Jika pengelolaan bisnis dilakukan secara rutin, maka jika ingin membuka cabang franchise akan jauh lebih mudah.

6. Beli Franchise Kekinian

Perkembangan ekonomi masyarakat Indonesia yang semakin sejahtera mau tidak mau membuat bisnis franchise semakin diminati. Beberapa konsep waralaba bahkan populer dan sukses, mulai dari waralaba laundry, jaringan kopi, biro perjalanan hingga berbagai cita rasa kuliner kekinian yang kini sedang viral. Tidak ada salahnya jika Anda memilih franchise kekinian karena memang sangat diminati oleh masyarakat.

Namun ada baiknya, jika Anda tidak memilih franchise hanya karena sudah populer. Bayangkan jika Anda ingin bisnis waralaba pilihan Anda bertahan selama bertahun-tahun. Apakah orang masih suka minum es kopi dalam lima tahun ke depan? Dalam tujuh tahun ke depan, apakah masih dibutuhkan jasa salon helm dan biro perjalanan?

Jangan membeli paket franchise yang hanya bertahan selama musim dan tren, lebih baik pilih yang sudah terbukti awet bertahun-tahun. Namun jika Anda benar-benar ingin tetap berada di posisi dan memilih waralaba modern, pastikan pemilik waralaba sudah memiliki tujuan jangka panjang untuk bisnis dan berbagai ide dan strategi inovatif yang masuk akal dan memiliki peluang untuk menguasai pasar.

7. Kurang Pemahaman Atas Franchise

Kesalahan selanjutnya yang akan dilakukan calon investor adalah membeli paket franchise tanpa mengetahui bisnisnya. Ingat, ketika Anda memulai waralaba, Anda tidak memiliki hak untuk mengubah sistem yang telah diatur oleh pemiliknya. Secara teknis, Anda adalah pemilik toko, tetapi Anda harus mengikuti aturan pemilik waralaba.

Untuk alasan ini, kami kembali untuk mempelajari lebih lanjut tentang kontrak, karena ada artikel yang mengatur berapa banyak pemilik waralaba. Bisa jadi pemilik tiba-tiba mengurangi jumlah produksi, menaikkan biaya pemasaran atau bahan baku agar mereka membeli peralatan baru.

Karena franchisee memiliki kendali atas segalanya, mereka masih bisa mendapat untung ketika Anda terjebak. Bagaimana Karena saat melakukan bisnis waralaba, Anda harus membayar royalti berdasarkan kontrak meskipun omzet yang Anda terima tidak banyak.

8. Kurang Riset Mendalam

Berbicara tentang pengertian bisnis franchise, franchisor juga perlu belajar bagaimana membangun dan menumbuhkan jaringan franchise. Ada baiknya sebelum membuka cabang baru dan menerima investor, lakukan riset di area tersebut. Produk waralaba apa yang bisa Anda jual? Berapa operasional yang harus dilakukan untuk strategi pemasaran bagi calon pelanggan baru.

Riset mendalam juga harus dilakukan oleh calon pembeli franchise, dimana mereka tidak terlalu percaya dengan reward atau liputan positif yang akan diterima bisnis franchise. Jika perlu, lihat berbagai komentar bisnis di website untuk mengetahui apa yang disukai dan tidak disukai konsumen.

Dengan riset mendalam, Anda sebagai calon investor dan pemilik bisnis franchise akan lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan. Bukan tidak mungkin pada akhirnya bisnis franchise yang terlibat akan semakin kuat dan tentunya akan semakin sukses.

Baca artikel lainnya di Jakarta Media, bisa Anda kunjungi dengan mengklik link tersebut.