4 Tipe Kayu Yang Biasa Dipakai Sebagai Bahan Kerajinan Bali

Saat seorang seniman memilih untuk membuat kreasi baru, salah satunya pemikiran pertama kali yang dia bikin ialah bahan apa yang bakal ia pakai? Kami menyaksikan design dan skema sulit yang dibuat dan diukir pada kayu dan batu. Bali, untuk sumber khusus ukir-pahatan kayu, banyak melakukan chipping. Mereka memahat balok kayu tanpa capek untuk membuat kreativitas cantik yang dapat kita lihat sekarang ini. Salah satunya poin pertama kali yang harus mereka peroleh ialah material. Seringkali mereka memakai bahan yang harga murah. Umumnya, bahan semacam itu terdapat banyak di Pulau ini. Pohon yang mana mereka incar? Pohon apa yang mereka pakai untuk membikin kreasi seni mereka? Silahkan kita simak sepintas 4 pohon dalam garis besar yang kerap dipakai dalam ukir-pahatan kayu juga Bali decor yang lain (nikmati keunikannya, dan faedah memahat beragam tipe dari pohon itu).

Pohon pertama ialah kayu yang umum dipakai untuk ukir-pahatan di Bali, kayu ini dikenali oleh warga di tempat sebagai ‘Albesia’ atau ‘Belalu’ (Albasia Falcata). Ini ialah kayu putih yang halus. Ada beberapa argumen kenapa ini kerap dipakai. Ini kayu asli Indonesia. Dengan begitu, dia tumbuh dengan baik sekali sampai dengan tinggi 130 kaki. Saat ini itu bukan suatu hal yang terlampau spesial. Beberapa kayu merah sudah diketemukan jauh lebih tinggi dari itu, tapi saat Anda menimbang berapa cepat Albesia tumbuh, menjadi benar-benar terang kenapa spesies ini dicintai di perkebunan Indonesia. Tipe kayu ini dapat tumbuh dengan tinggi 30 kaki cuman dalam dua tahun. Itu secara astronomi. Kayu ini dianugrahi gelar sah sebagai “pohon yang tumbuh tercepat di dunia.” Karena perkembangannya cepat sekali, petani Indonesia bisa cari nafkah dari pohon ini, menanamnya dimanapun mereka dapat. Pokok dari kayu ini dipakai untuk membikin furniture, pintu, dan kayu lapis. Ini tahan rayap. Ada yang sempat coba menyimpan salah satunya potongan kayu ini di dekat sarang rayap sepanjang satu minggu, dan rupanya tidak hancur oleh rayap.

Pohon selanjutnya dikenali sebagai “kayu Buaya” atau Kayu Satin (Zanthoxylum Rhetsa). Anda bisa menyaksikan kenapa disebutkan kayu buaya. Beberapa warga dusun sudah ditakutkan awalnya oleh kayu buaya yang mengambang di hulu, karena terlihat layaknya punggung buaya. Cukup lucu! Ini ialah kayu putih yang relatif keras. Ukir-pahatan dengan kayu ini memberinya hasil akhir yang paling lembut. Demikian lembut hingga seperti terlihat gading.

Selanjutnya seterusnya, kita mempunyai “kayu Suar” atau Pohon Hujan (Albasia Saman). Pohon ini mempunyai kayu keras warna coklat. Ini ialah pohon dengan penebaran simetris yang besar. Dikenali sebagai pohon hujan karena daunnya terlipat saat hujan dan saat matahari tenggelam. Capai ketinggian 82 kaki dan diameter nyaris 120 kaki. Kayunya lumayan berat, menjadikan opsi bagus untuk penyangga rumah. Ukir-pahatan kayu Bali yang memakai kayu ini berwarna gelap dan berbobot yang lumayan berat. Ini ialah kayu yang dicintai importir di luar wilayah tropis karena butirannya yang sama-sama bersilangan dan dapat menahan kayu rengat saat ditempatkan di cuaca yang lebih kering. Bila Anda tinggal di gurun atau wilayah panas, Anda harus pilih kayu ini.

Paling akhir, Kita mempunyai “kayu Waru” atau Kembang Sepatu Abu-abu (Hibiscus Tiliaceus). Kayunya warna putih juga abu-abu muda. Kayu ini kerap membuat ukir-pahatan dengan 2 warna yang unik. Bersamaan pertambahan umur, warna abu-abu beralih menjadi hijau memberinya penampilan yang bersahaja. Beberapa pohon ini benar-benar pendek, capai ketinggian 32 kaki. Kulit luar pohon ini mempunyai serat keras yang dipakai untuk membikin tali. Kayu ini mempunyai karakter unik jadi lebih kuat saat basah. Itu kenapa umumnya dipakai untuk menambal kapal. Ini ialah kayu untuk furniture dan peralatan rumah Bali (Bali homewares) berkualitas tinggi. Bila Anda ingin tempatkan furniture Anda di luar, saya akan mereferensikan kayu “waru” sebagai berbahan. Dengan demikian Anda tak perlu cemas dengan kelembapan udara.